Perjalanan ekonomi Indonesia dalam dua dekade terakhir menunjukkan ketangguhan Indonesia dalam mengelola krisis. Meski sering kali terdampak oleh guncangan eksternal, fondasi ekonomi domestik terbukti mampu beradaptasi dengan karakteristik krisis yang berbeda-beda.
Berikut adalah kesimpulan perbandingan antara tiga periode krisis global yang menghentakkan perekonomian dunia, yaitu krisis finansial global 2008, krisis utang Eropa 2010-2012, dan krisis akibat perang Iran vs AS- Israel pada 2026.
Pada krisis 2008, Indonesia merasakan hantaman keras di sektor finansial. Sepanjang 2008, rupiah anjlok hingga 16,05%, dari Rp 9.392 per dolar AS pada 1 Januari 2008 menjadi Rp 10.900 per dolar AS pada akhir tahun. Bahkan pada 1 Desember 2008, rupiah sempat menyentuh level Rp 12.200 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang tahun 2008. Pada saat itu, IHSG juga sempat anjlok yang pada akhirnya memaksa otoritas bursa melakukan suspensi perdagangan. Namun, dengan adanya berbagai kebijakan stimulus fiskal dari pemerintah, Indonesia berhasil menghindari resesi dan tetap tumbuh positif.
Berbeda dengan krisis global pada 2008, krisis utang Eropa pada 2010 memiliki pengaruh yang lebih rendah terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan karena meskipun Eropa adalah mitra dagang penting, ketergantungan ekspor Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara emerging market lain yang berorientasi ekspor ke Eropa. Selain itu pada saat krisis 2010, fundamental perekonomian Indonesia sudah lebih kuat dibandingkan dengan kondisi pada 2008.
Pada 2026, adanya perang Iran VS AS-Isreal diprediksi akan membuat ndonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.Dampaknya meliputi berbagai aspek, yakni : guncangan pasar keuangan, pelemahan rupiah, inflasi , serta gangguan rantai pasok global yang mengancam sektor-sektor krusial. Dampak dari konflik ini akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas eskalasi perang, dengan skenario terburuk dapat mengganggu pasokan energi global selama berbulan-bulan.