Memasuki Ramadan dan Idulfitri 2026, daya beli masyarakat menghadapi tekanan akibat kenaikan inflasi yang tidak diimbangi peningkatan upah. Riset INDEF bertajuk “Daya Beli Masyarakat di Bulan Ramadan dan Idul Fitri 2026” mencatat, pada Januari hingga Februari 2026, inflasi tercatat naik dari 3,55% menjadi 4,76%. Sementara itu, kenaikan upah relatif terbatas bahkan berada di bawah laju inflasi, sehingga kemampuan masyarakat dalam memenuhi standar hidup layak semakin tertekan.
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus fiskal, seperti bantuan pangan, diskon tarif transportasi, percepatan belanja negara, serta peningkatan alokasi Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri. Meski kebijakan ini berpotensi menjaga konsumsi dalam jangka pendek, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dinilai terbatas karena belum menjangkau pekerja swasta dan sektor informal secara merata.
Tekanan inflasi juga diperparah oleh faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik antara AS-Israel dan Iran yang mendorong kenaikan harga energi. Kondisi ini meningkatkan biaya impor serta distribusi domestik. Di sisi lain, inflasi dari sisi pasokan belum tertangani optimal dan cenderung direspons melalui kebijakan moneter, sehingga memunculkan ketidaksesuaian dalam penanganannya. Inflasi musiman pada Ramadan hingga Lebaran 2026 yang rata-rata menambah 0,3-0,8% mtm berpotensi memperburuk kondisi jika pelemahan rupiah tidak diimbangi strategi stabilisasi harga.
Respons kebijakan juga menunjukkan perbedaan kecepatan antara fiskal dan moneter. Inflasi dari sisi supply cenderung tidak disentuh langsung, sementara respons lebih banyak melalui moneter sehingga terjadi ketidaksesuaian kebijakan. Dalam jangka pendek, meskipun inflasi relatif terkendali, tekanan biaya masih dirasakan produsen, sementara suku bunga tinggi menahan pemulihan ekonomi serta memperlambat transmisi kredit ke sektor riil.
Menariknya, pola konsumsi selama Ramadan juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya kelompok makanan, minuman, dan tembakau mendominasi inflasi, tren pada 2026 menunjukkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru meningkat signifikan dan menjadi sumber tekanan inflasi. Kenaikan ini terjadi secara konsisten menjelang dan selama Ramadan, bahkan melampaui kelompok pengeluaran lainnya, mencerminkan pergeseran konsumsi masyarakat yang dipengaruhi aktivitas sosial dan layanan berbasis jasa.