Bank Indonesia (BI) mencatat realisasi penukaran uang kartal untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri 2026 telah mencapai 91% dari total yang disiapkan. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 89%, mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam memperoleh uang baru menjelang Lebaran. Sebagai perbandingan, pada 2025 BI menyiapkan uang tunai sebesar Rp 180,9 triliun guna memenuhi kebutuhan transaksi selama Ramadan dan Lebaran.
Riset INDEF berjudul "Daya Beli Masyarakat di Bulan Ramadan dan Idul Fitri" pada Maret 2026 menunjukkan bahwa periode Ramadan-Lebaran identik dengan lonjakan permintaan uang tunai. Uang kartal biasanya meningkat tajam menjelang Lebaran karena kebutuhan transaksi ritel, pembagian THR, hingga aktivitas mudik, sebelum kembali turun atau normal setelah Lebaran. Sementara itu, agregat uang beredar yang lebih luas seperti M2 cenderung tidak terlalu terpengaruh karena didominasi oleh uang kuasi dan faktor portofolio.
Data historis menunjukkan pola musiman tersebut. Pada 2021, uang kartal meningkat dari April sebesar 5,80% menjadi Mei sebesar 1,49%. Pada 2022 terjadi lonjakan dari April sebesar 13,10% lalu berbalik turun pada Mei sebesar -8,50%. Tahun 2023 menunjukkan kenaikan bertahap dari Maret sebesar 2,33% ke April sebesar 7,55% sebelum turun di Mei sebesar -4,04%. Pada 2024, kenaikan terjadi pada Maret sebesar 4,62% lalu berbalik turun di April sebesar -1,10% dan Mei sebesar -0,97%. Sementara pada 2025, lonjakan tercatat dari Maret sebesar 7,92% sebelum turun pada April sebesar -5,85%.
Lonjakan uang kartal menjelang Lebaran pada dasarnya mencerminkan peningkatan kebutuhan transaksi dan penarikan tunai masyarakat. Namun demikian, peningkatan jumlah uang beredar tidak otomatis mencerminkan daya beli yang lebih kuat. Faktor utama yang menentukan daya beli tetap berasal dari tekanan inflasi musiman, khususnya pada komponen pangan dan transportasi, serta ketersediaan barang di pasar.