Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah setelah libur panjang Idulfitri akan bergerak dalam kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS.
Adapun salah satu pendorong utamanya yaitu ketidakpastian pasar keuangan global meningkat seiring konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan arus modal asing keluar dari negara berkembang. Pada Maret 2026, investasi portofolio di emerging markets mencatat net outflows sebesar US$ 1,1 miliar, berbalik dari kondisi Januari-Februari 2026 yang mencatat net inflows kumulatif sebesar US$ 1,6 miliar. Arus keluar dana ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS.
Selain itu, selama periode libur akan dirilis hasil rapat The Federal Reserve melalui Federal Open Market Committee (FOMC). Penguatan dolar AS juga didorong oleh kebijakan bank sentral global yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan cenderung menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi. Tekanan inflasi ini dipicu oleh lonjakan harga energi, terutama minyak mentah Brent yang diperkirakan bergerak di kisaran US$ 110 hingga US$ 116.
Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah juga memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven. Sementara itu, struktur ekonomi Indonesia yang bergantung pada cadangan devisa turut menjadi perhatian. Meski cadangan devisa terlihat besar, sebagian berasal dari utang luar negeri pemerintah dan Bank Indonesia yang lebih banyak digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, bukan untuk kegiatan produktif.