Israel dan Amerika Serikat gencar melakukan operasi militer besar di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Di tengah eskalasi konflik antara negara-negara tersebut, perhatian global juga tertuju pada posisi strategis Iran dalam peta energi dunia.
Berdasarkan data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), Iran memasok sekitar 3,26 juta barel minyak per hari sepanjang 2025 dan berada di peringkat enam dunia. Negara ini juga memiliki cadangan gas alam terbesar kedua secara global, dengan target pangsa pasar 8–10% pada 2025 melalui proyek ambisius seperti Persian Pipeline. Sektor migas menjadi tulang punggung devisa nasional di tengah tekanan geopolitik.
Selain energi, Iran menyimpan potensi lithium besar. Pada Maret 2023, Iran mengumumkan temuan cadangan hingga 8,5 juta ton, yaitu sekitar 10% dari total cadangan global 89 juta ton yang berpotensi menempatkannya sebagai pemilik cadangan terbesar ke-4 setelah Bolivia, Argentina, dan Chile.
Di sektor tambang, Iran termasuk 10 besar negara terkaya cadangan mineral dengan 60-70 miliar ton, meliputi besi, tembaga, seng, timbal, bauksit, aluminium, feldspar, barite, gypsum, uranium, turquoise, dan emas. Warisan mineral Iran juga mencakup pirus terbaik dunia dari Nishapur sejak abad ke-5 SM, yang dikenal karena warna biru stabil dan kekerasan tinggi. Di samping itu, Iran memiliki cadangan gypsum terbesar kedua di dunia serta salt domes unik yang diakui UNESCO.
Sektor perikanan pun signifikan berkat keragaman ekosistem di Teluk Persia dan Teluk Oman (FAO). Kombinasi sumber daya energi dan mineral tersebut menjadikan Iran pemain strategis, sehingga konflik saat ini bukan hanya persoalan militer, tetapi juga pertaruhan atas aset alam bernilai global.