Konflik Israel-AS Vs Iran Berisiko Tekan Ekonomi RI

Selasa, 3 Maret 2026 | 14:38 WIB

Y
Penulis: Yelinka Maresa Sianturi | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Konflik Israel-AS Vs Iran Berisiko Tekan Ekonomi RI
Konflik Israel-AS dan Iran picu risiko ekonomi RI, seperti kenaikan BBM naik hingga inflasi pangan dan tekanan daya beli.

Serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026 bukan hanya memicu ketegangan militer, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Ketergantungan pasar global terhadap energi Timur Tengah membuat eskalasi ini berpotensi menekan banyak negara, termasuk Indonesia. 

Menurut Center of Economic and Law Studies (CELIOS), lonjakan harga minyak dunia menjadi ancaman utama. Dalam skenario ekstrem, harga minyak mentah diperkirakan bisa berada di kisaran US$ 100 hingga US$ 120 per barel. Kondisi tersebut berisiko mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri serta memperberat beban subsidi energi. Ketergantungan Indonesia pada energi fosil membuat tekanan terhadap APBN semakin besar dan membuka peluang pelebaran defisit fiskal.

Konflik Israel-AS dan Iran picu risiko ekonomi RI, seperti kenaikan BBM naik hingga inflasi pangan dan tekanan daya beli. - (CELIOS/Karen Agatha)
Konflik Israel-AS dan Iran picu risiko ekonomi RI, seperti kenaikan BBM naik hingga inflasi pangan dan tekanan daya beli. - (CELIOS/Karen Agatha)

Di sisi lain, ketidakpastian global memicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Harga emas yang melonjak 48,4% dalam enam bulan terakhir menunjukkan pergeseran investor ke aset aman, yang berdampak pada tergerusnya nilai simpanan berbasis rupiah. Hingga Februari 2026, pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp 75,6 triliun. Dengan kurs yang melemah, beban pembayaran utang otomatis meningkat.

Risiko juga muncul dari sisi perdagangan dan inflasi. Premi asuransi pengiriman serta tarif logistik melonjak akibat meningkatnya risiko keamanan dan pembatasan jalur pelayaran. Konsekuensinya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi naik dalam waktu singkat. Di saat bersamaan, inflasi pangan yang terus meningkat semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang paling sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

Data Terkait

gelombang-protes-no-kings-menentang-otoritarianisme-di-amerika-serikat
Internasional

Gelombang Protes No Kings Menentang Otoritarianisme di Amerika Serikat

Gerakan "No Kings" muncul sebagai respons masif terhadap periode kedua pemerintahan Donald Trump yang dinilai mengabaikan prinsip akuntabilitas demokrasi

3 hari yang lalu

konflik-iran-as-angkat-saham-energi-dan-emas-bagaimana-kinerjanya-kini
Ekonomi

Konflik Iran-AS Angkat Saham Energi dan Emas, Bagaimana Kinerjanya Kini?

Saham energi dan emas sempat naik usai konflik Iran-AS, namun terkoreksi seiring IHSG turun 11,48% dan risiko defisit fiskal di atas 3%.

3 hari yang lalu

sektor-pendidikan-iran-lumpuh-akibat-serangan-udara-amerika-serikat
Internasional

Sektor Pendidikan Iran Lumpuh Akibat Serangan Udara Amerika Serikat

Dunia pendidikan di Iran mengalami kehancuran masif menyusul rangkaian serangan udara yang dimulai sejak akhir Februari 2026.

4 hari yang lalu

konflik-timur-tengah-tekan-sektor-ekonomi-transportasi-paling-terdampak
Ekonomi

Konflik Timur Tengah Tekan Sektor Ekonomi, Transportasi Paling Terdampak

Eskalasi AS-Israel-Iran ganggu jalur pupuk dunia dan logistik. Harga minyak sentuh US$ 100/barel, biaya produksi dan pangan global ikut terdampak.

4 hari yang lalu

percepat-transisi-energi-bauran-ebt-nasional-capai-1575-di-2025
Ekonomi

Percepat Transisi Energi, Bauran EBT Nasional Capai 15,75% di 2025

Konflik Iran-AS menyebabkan harga minyak mentah melambung dan mendorong krisis energi. Indonesia kemudian mempercepat transisi energi, adapun bauran EBT telah mencapai 15,75% pada 2025.

6 hari yang lalu

dinamika-negosiasi-nuklir-dan-eskalasi-krisis-energi-iran-amerika-serikat
Internasional

Dinamika Negosiasi Nuklir dan Eskalasi Krisis Energi Iran-Amerika Serikat

Rangkaian negosiasi antara Iran dan AS sejak April 2025-Maret 2026 menunjukkan fluktuasi ketegangan yang signifikan.

26 Mar 2026