Kabar baik datang dari kondisi ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya perbaikan signifikan dalam distribusi pengeluaran penduduk. Per September 2025, angka Gini Ratio nasional tercatat sebesar 0,363, sebuah capaian yang menunjukkan tren positif dalam pemerataan ekonomi di tanah air.
Angka ini memperlihatkan penurunan sebesar 0,012 poin dibandingkan dengan Maret 2025 yang berada di level 0,375. Jika ditarik lebih jauh ke September 2024, penurunannya bahkan lebih terasa, yakni mencapai 0,018 poin dari angka sebelumnya 0,381. Penurunan ini menjadi sinyal kuat bahwa kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin di Indonesia kian menipis.
Pemulihan Pasca-Pandemi dan Tren Perbaikan
Menilik ke belakang, perjalanan Indonesia dalam menekan ketimpangan cukup fluktuatif. Pada September 2019, Gini Ratio berada di angka 0,380 sebelum akhirnya melonjak akibat hantaman pandemi Covid-19 pada 2020. Ketimpangan bahkan sempat menyentuh angka 0,388 (Maret 2023), yang merupakan level tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
Namun sejak memasuki Maret 2025, Indonesia menunjukkan pemulihan yang konsisten. Tren menurun dari 0,379 di Maret 2024 hingga menyentuh 0,363 di September 2025 menjadi bukti nyata bahwa tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk terus mengalami perbaikan yang berkelanjutan.
Ketimpangan Kota vs Desa: Kontras yang Kian Meredup
Perbaikan distribusi pengeluaran terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di daerah perkotaan, Gini Ratio pada September 2025 tercatat sebesar 0,383, turun dari 0,395 di Maret 2025 dan 0,402 di September 2024. Meski angka di perkotaan masih lebih tinggi secara nominal, laju penurunannya menunjukkan progres yang berarti. Sementara itu di daerah perdesaan, pemerataan pengeluaran terlihat jauh lebih stabil dan rendah. Pada September 2025, Gini Ratio perdesaan tercatat hanya 0,295, turun tipis dari 0,299 di Maret 2025 dan 0,308 di September 2024. Kondisi ini menempatkan wilayah perdesaan dalam kategori ketimpangan rendah menurut standar internasional.
Meningkatnya Daya Beli Kelompok 40% Terbawah
Indikator lain yang menggembirakan adalah meningkatnya porsi pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah, atau yang sering disebut sebagai Ukuran Bank Dunia. Secara nasional, distribusi pengeluaran kelompok ini mencapai 19,28% pada September 2025. Angka tersebut meningkat 0,63% poin dari Maret 2025 dan tumbuh 0,87% poin dibanding September 2024.
Di wilayah perkotaan, porsi pengeluaran kelompok terbawah ini naik menjadi 18,32%, sedangkan di perdesaan angkanya lebih tinggi lagi, mencapai 22,09%. Kenaikan persentase ini menandakan bahwa daya beli masyarakat di level ekonomi bawah mulai menguat dan porsi ekonomi yang mereka nikmati semakin besar.
Potret Wilayah: Dari Bangka Belitung hingga Papua Selatan
Meski secara nasional membaik, sebaran ketimpangan antarprovinsi masih menunjukkan keberagaman yang lebar. Papua Selatan tercatat sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan tertinggi di Indonesia. BPS menyebut, Gini Ratio Papua Selatan mencapai 0,426. Sebaliknya, Kepulauan Bangka Belitung menjadi wilayah paling merata dengan angka terendah di Indonesia, yakni 0,214. Selain Papua Selatan, terdapat 8 provinsi lain yang angka ketimpangannya berada di atas rata-rata nasional (0,363), di antaranya DKI Jakarta (0,423), DI Yogyakarta (0,414), Papua (0,397), Jawa Barat (0,397), Kepulauan Riau (0,385), Papua Barat (0,383), Gorontalo (0,383), serta Nusa Tenggara Barat (0,364).