Pergerakan saham paling moncer sepanjang tahun ini didominasi oleh saham lapis ketiga atau third liner. Lonjakan harga yang ekstrem dipicu oleh kombinasi sentimen, mulai dari aksi korporasi seperti rights issue, rencana ekspansi bisnis, masuknya investor strategis, hingga maraknya transaksi spekulatif oleh investor ritel.
Saham PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) terbang paling tinggi, yaitu naik 10.138,10%. Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEII), harga saham ini melonjak dari Rp 42 pada awal Januari 2025 menjadi Rp 4.300 pada penutupan perdagangan 24 Desember 2025.
Lonjakan serupa juga terjadi pada PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) yang melesat lebih dari 5.000% sepanjang tahun, disusul PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) dan PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) yang mencatat kenaikan di atas 2.400%. Tak hanya itu, saham-saham lain seperti PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dan PT Bukit Uluwatu Villa (BUVA) juga mencatat reli ribuan persen.
Fenomena reli saham third liner ini menunjukkan tingginya selera risiko investor, terutama ritel. Meski menawarkan potensi cuan besar dalam waktu singkat, pergerakan harga yang agresif juga mengandung risiko koreksi tajam. Investor pun perlu mencermati fundamental, likuiditas, serta pola transaksi agar tidak terjebak euforia pasar.
Sanggahan: Konten ini disajikan sebagai informasi jurnalistik oleh Datasatu.com, bukan sebagai rekomendasi investasi untuk menjual, menahan, atau membeli saham tertentu. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca, termasuk segala risiko, kerugian, atau potensi keuntungan yang menyertainya.