Sepanjang sejarah perhelatan Piala Dunia, sejumlah negara memilih mundur dengan berbagai alasan yang mencengangkan. Pada tahun 1934, Uruguay mencetak anomali sejarah dengan menjadi satu-satunya juara bertahan yang menolak tampil sebagai bentuk protes atas minimnya partisipasi tim Eropa di edisi sebelumnya. Empat tahun berselang, giliran Austria yang terpaksa menarik diri akibat aneksasi Nazi, sebuah tragedi politik yang bahkan membuat bintang mereka, Matthias Sindelar, menolak membela tim bentukan Jerman. Memasuki tahun 1950, India juga memutuskan absen meski telah mengantongi tiket putaran final akibat kendala finansial dan persiapan tim yang karut-marut.
Ketegangan antarbenua dan geopolitik turut mewarnai gelombang pengunduran diri di era yang lebih modern. Pada 1966, seluruh tim asal Afrika melakukan aksi boikot massal terhadap FIFA karena merasa dianaktirikan oleh regulasi jatah tiket yang tidak adil bagi benua mereka. Kini, menjelang Piala Dunia 2026, wacana mundurnya Iran mencuat ke permukaan akibat memanasnya situasi geopolitik pasca serangan militer serta kekhawatiran faktor keamanan pemain di Amerika Utara. Jika rencana ini terealisasi, FIFA dipaksa bergerak cepat untuk mencari tim pengganti dari Asia guna menjaga integritas kompetisi di Grup G.