Infrastruktur dasar dinilai sebagai sektor yang paling membutuhkan penanganan segera dalam pemulihan pascabencana di Sumatera. Berdasarkan survei Litbang Kompas terhadap 510 responden dari 76 kota di Indonesia, sebanyak 37,4% responden menyebut perbaikan infrastruktur sebagai prioritas utama, melampaui sektor pemulihan ekonomi maupun layanan sosial.
Urgensi tersebut tak lepas dari dampak banjir yang merusak fasilitas vital di berbagai wilayah terdampak bencana Sumatera. Di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan tercatat mengalami kerusakan signifikan, yakni 74 fasilitas umum, 19 rumah ibadah, serta 54 fasilitas pendidikan yang terdampak, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.
Kerusakan lebih luas juga terjadi di Aceh, terutama di Aceh Utara. Wilayah ini mencatat 123 fasilitas umum terdampak, disertai 48 rumah ibadah, 99 gedung atau kantor, serta 75 fasilitas pendidikan. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap layanan publik dan aktivitas pemerintahan setempat.
Sementara itu, Sumatera Barat menghadapi dampak yang tidak kalah berat. Di Padang Pariaman, kerusakan mencakup lebih dari 339 fasilitas umum, 118 rumah ibadah, 197 fasilitas pendidikan, serta hampir 4.000 rumah warga. Besarnya skala kerusakan ini memperkuat persepsi publik bahwa pemulihan infrastruktur dasar menjadi fondasi utama pemulihan pascabencana.