Bencana banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera dalam beberapa hari terakhir. Plt. Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa bencana yang terjadi di lima kabupaten, yakni Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, dipicu oleh kombinasi faktor alam yang saling memperparah.
Curah hujan tinggi hingga ekstrem menjadi faktor paling dominan, terutama setelah berkembangnya Bibit Siklon Tropis 95B di perairan timur Aceh dan Selat Malaka. Fenomena ini memicu hujan lebat, angin kencang, dan cuaca ekstrem di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau. Selain itu, BMKG juga mendeteksi keberadaan Meso Siklon Konvektif Kompleks (MCC) di Samudra Hindia barat Sumatera, sistem badai petir berskala besar yang mampu menghasilkan hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam durasi panjang.
Kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi turut memperbesar risiko gerakan tanah. Di Sumatera Utara, misalnya, lokasi longsor berada di kawasan perbukitan yang mengelilingi Kota Sibolga, yang secara umum masuk ke zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Struktur tanah yang rapuh, jenuh air, dan mudah bergeser membuat wilayah ini semakin rentan, terutama saat curah hujan ekstrem terjadi berturut-turut.