Pulau Sumatera merupakan salah satu penopang penting perekonomian nasional, terutama melalui sektor pertanian, perkebunan, dan sumber daya alam. Pada triwulan III-2025, Sumatera Utara mencatat kontribusi terbesar di antara provinsi terdampak dengan sumbangan 5,21% terhadap PDB Indonesia. Sementara itu, Sumatera Barat dan Aceh masing-masing menyumbang 1,46% dan 1,08%. Peran ini menjadikan stabilitas wilayah Sumatera krusial bagi kinerja ekonomi nasional.
Namun, kontribusi tersebut kini menghadapi tantangan serius akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Tak hanya menimbulkan kerusakan fisik, bencana di Sumatera juga menghantam lahan produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pangan dan perikanan.
Aceh menjadi provinsi dengan kerusakan lahan paling luas. Total area terdampak mencapai 14,68 ribu hektare, didominasi oleh sawah dan tambak. Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan, mengganggu mata pencaharian warga, serta memperlambat pemulihan ekonomi daerah yang kontribusinya terhadap PDB nasional relatif kecil namun strategis bagi ketahanan pangan regional.
Kerusakan lahan juga tercatat di provinsi lain, meski dengan skalanya lebih kecil. Di Sumatera Barat, sekitar 0,45 ribu hektare lahan terdampak, mencakup sawah dan lahan jagung yang vital bagi petani lokal. Sumatera Utara mencatat kerusakan sekitar 0,22 ribu hektare. Meski secara luasan lebih kecil, dampaknya menjadi signifikan karena besarnya peran Sumatera Utara terhadap PDB nasional, sehingga gangguan pada sektor produktif berpotensi memberi efek rambatan ke perekonomian Indonesia secara lebih luas.