BPJS Kesehatan menghadapi tekanan keuangan akibat tingginya beban pembayaran klaim yang melampaui pendapatan iuran peserta. Setiap hari, BPJS Kesehatan melayani sekitar 2 juta transaksi layanan kesehatan dengan nilai pembayaran mencapai Rp500 miliar. Dalam sebulan, total pembayaran klaim diperkirakan mencapai Rp16–16,5 triliun, sementara iuran yang terkumpul hanya sekitar Rp14 triliun. Kondisi tersebut menyebabkan defisit sekitar Rp2–2,5 triliun setiap bulan.
Tekanan keuangan tersebut juga tercermin dalam kinerja hingga April 2026. Pendapatan iuran BPJS Kesehatan tercatat sebesar Rp59,81 triliun, sedangkan beban biaya jaminan kesehatan mencapai Rp65,03 triliun. Dengan demikian, BPJS Kesehatan membukukan defisit sebesar Rp5,22 triliun dalam empat bulan pertama tahun ini.
Di sisi lain, rasio klaim BPJS Kesehatan terus meningkat. Hingga April 2026, rasio klaim mencapai 108,72%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 107,69%. Rasio klaim yang berada di atas 100% menunjukkan bahwa nilai klaim yang dibayarkan BPJS Kesehatan lebih besar dibandingkan pendapatan iuran yang diterima, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap keberlanjutan keuangan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).