Jumlah dokter di Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai 276,6 ribu dokter yang terdiri dari dokter umum, spesialis, hingga dokter gigi. Melansir data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), dokter di Indonesia didominasi oleh dokter umum yang mencapai 171,5 ribu orang atau mencapai 62% dari total populasi. Sementara jumlah dokter gigi di Indonesia hanya mencapai 16,2% atau sebanyak 44,70 ribu orang. Di sisi lain, Indonesia masih kekurangan tenaga dokter spesialis. Data KKI menyebutkan, jumlah dokter spesialis di Indonesia hanya sebanyak 55,40 ribu dokter atau sebesar 19,7% dari populasi. Bahkan jumlah dokter gigi spesialis hanya mencapai 2,2% atau 5,9 ribu orang.
Di samping itu, Indonesia juga masih menghadapi berbagai tantangan dalam ketersediaan tenaga kesehatan, seperti ketimpangan distribusi tenaga medis, beban kerja tinggi di daerah minim fasilitas, dan gaji yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai pengabdian. Guna mengatasi tantangan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan layanan kesehatan terutama pencetakan tenaga medis, khususnya dokter spesialis.
"Kita masih menghadapi kendala. Bangsa kita sangat besar. Kekurangan dokter, kekurangan spesialis. Kita harus menggunakan segala kemampuan kita untuk mencapai cita-cita kita, yaitu kesehatan dengan pelayanan terbaik untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya saat meresmikan Gedung Layanan Terpadu dan Institut Neurosains Nasional Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Jakarta, pada Selasa, 26 Agustus 2025, dikutip dari portal resmi Presiden RI.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia masih kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, dengan produksi dokter spesialis hanya sekitar 2,7 ribu per tahun. Ia menyampaikan, jika kondisi ini berlanjut, maka butuh waktu 35 tahun untuk memenuhi kekurangan tersebut sehingga dibutuhkan langkah strategis untuk mengatasi tantangan ini. Adapun langkah strategis tersebut diantaranya adalah pembukaan 148 program studi baru di 57 fakultas kedokteran, termasuk spesialis dan subspesialis. Sedangkan 30 fakultas kedokteran baru juga ditargetkan Presiden Prabowo guna mengejar kekurangan jumlah dokter spesialis dan dokter umum di Indonesia.