Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan ini turut mengancam kelancaran arus energi internasional, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.
Selat selebar 33-39 kilometer tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41, memperingatkan bahwa penutupan jalur ini dalam waktu lama berpotensi menyeret dunia ke jurang resesi. Iran memegang kendali sisi utara melalui Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang bermarkas di Bandar Abbas, sementara sisi selatan berbatasan dengan Oman. Sejumlah pulau strategis seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak berada di bawah kontrol Teheran.
Menurut EIA, Selat Hormuz merupakan titik transit minyak paling krusial di dunia. Data Kpler menunjukkan sekitar 14 juta barel minyak per hari melintasi jalur ini sepanjang 2025, setara sepertiga ekspor minyak mentah global, yang sebagian besar menuju China. Selain itu, 20% perdagangan LPG dunia yang sebagian besar dari Qatar, juga melewati selat tersebut.
Dampaknya tidak hanya pada energi, namun perdagangan secara keseluruhan. Moneycontrol.com mencatat ekspor non-migas India ke negara Teluk mencapai US$ 47,6 miliar. Sedangkan total nilai perdagangan di kawasan Teluk Persia-Selat Hormuz menembus US$ 1,2 triliun, setara dengan 20% pengiriman kontainer global.