Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga babak belur pada perdagangan Jumat (16/10). Di tengah mayoritas bursa kawasan Asia yang sebenarnya bergerak menguat, bursa saham dalam negeri justru ditutup anjlok tajam sebesar 11,48% ke posisi 5.190,94.
Melansir Investor.id (16/10), tekanan berat di pasar modal Indonesia memburuk seiring kabar bahwa penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi publik mengenai usulan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia, yakni dari kategori pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar mandiri (Standalone Market). Isu perombakan status ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar dan memicu aksi jual masif sejak awal perdagangan.
Kepanikan sudah terlihat sangat nyata sejak perdagangan sesi pertama dibuka. Indeks sempat ambles lebih dari 8%, yang memicu regulator bursa menghentikan sementara aktivitas transaksi saham atau trading halt untuk meredam kepanikan pasar. Hingga akhir sesi pertama, IHSG belum mampu bangkit dan tercatat merosot 630,78 poin atau 10,76% ke level 5.233.
Tekanan jual pun berlanjut hingga penutupan, mengikis indeks lebih dalam ke level 5.190,94. Kejatuhan drastis pada perdagangan akhir pekan ini kian memperpanjang tren penurunan bursa domestik, dengan catatan koreksi IHSG yang mencapai 21,83% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.