Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo per Senin (27/7) berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengungkapkan, perubahan kepemimpinan BI dapat meningkatkan premi risiko, mendorong investor mengurangi aset rupiah, serta menaikkan permintaan terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut berisiko menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan biaya impor dan harga barang konsumsi, dengan dampak yang lebih besar dirasakan rumah tangga miskin dan kelas menengah. Pada Senin (27/7), Investing mencatat rupiah melemah 0,44% menjadi Rp 18.005/US$, sebelum kembali terkoreksi ke Rp 18.071/US$ pada Selasa (28/7).
Dari sisi dunia usaha, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku, barang modal, maupun pembayaran dalam valuta asing. Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, pelaku usaha kini mencermati pergerakan kurs karena perubahan nilai tukar berpotensi memengaruhi biaya perusahaan yang menjalankan aktivitas perdagangan internasional.
Sementara itu, pasar obligasi diperkirakan menjadi instrumen yang cepat merespons perubahan sentimen sehingga dapat mendorong kenaikan yield SBN. Ketidakpastian arah kebijakan moneter juga berpotensi meningkatkan premi risiko dan yield obligasi meski BI Rate tidak berubah.
Dampaknya juga dapat menjalar ke APBN karena pemerintah membutuhkan pasar SBN yang stabil untuk membiayai defisit APBN dan memenuhi kewajiban utang jatuh tempo. Kenaikan yield SBN akibat ketidakpastian kebijakan moneter dapat mempersempit ruang fiskal dan berpotensi memengaruhi pembiayaan program sosial, pendidikan, serta pembangunan infrastruktur yang pada akhirnya berdampak kepada masyarakat penerima layanan publik, terutama pembayar pajak.
Tekanan juga berpotensi merambat ke pasar saham dan sektor perbankan. Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sentimen tersebut dapat menekan pasar saham Indonesia, khususnya perbankan yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan stabilitas sistem keuangan. Pada Senin (27/8), Investing mencatat IHSG turun 0,17% ke level 6.185,78, kemudian kembali merosot 0,89% ke 6.130,59 pada Selasa (28/7).
Pelemahan rupiah akibat ketidakpastian kepemimpinan juga berpotensi mendorong BI menaikkan suku bunga setelah mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, yang dapat meningkatkan biaya dana perbankan, memperlambat penurunan bunga kredit, serta menambah beban KPR, kredit kendaraan, dan pembiayaan usaha.
Di sisi lain, pengunduran diri Perry turut memunculkan spekulasi mengenai potensi pengaruh politik terhadap arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral. Pasar akan mencermati proses pemilihan gubernur BI berikutnya karena terdapat kekhawatiran meningkatnya risiko dominasi fiskal apabila kebijakan moneter lebih berpihak pada kebutuhan pembiayaan pemerintah.