Harga Pertamax Melonjak, Konsumsi BBM Subsidi Berpotensi Meningkat

Kamis, 11 Juni 2026 | 11:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Harga Pertamax Melonjak, Konsumsi BBM Subsidi Berpotensi Meningkat
Tren Konsumsi BBM Subsidi & Non Subsidi, 2020-2025

Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi resmi mengalami kenaikan pada Rabu (10/6). Menurut data Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax dengan RON 92 naik 32,11% menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. 

Sementara itu, Pertamax Green dengan RON 95 juga mengalami penyesuaian sebesar 31,78%, dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Kenaikan harga tersebut berpotensi memengaruhi pola konsumsi energi masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.

Di tengah kenaikan harga tersebut, konsumsi BBM non-subsidi dalam beberapa tahun terakhir justru menunjukkan tren peningkatan. Data Kementerian ESDM mencatat, konsumsi BBM non-subsidi naik 43,23% dalam lima tahun terakhir, dari 5,19 juta kilo liter (kl) pada 2020 menjadi 7,43 juta kl pada 2024. 

Konsumsi Pertamax mendominasi penggunaan BBM non-subsidi. Pada 2024, konsumsi Pertamax mencapai 6,39 juta kl atau sebesar 86,04% dari total konsumsi BBM non-subsidi, meningkat 57,52% dibandingkan lima tahun lalu.

Tren Konsumsi BBM Subsidi & Non Subsidi, 2020-2025 - (Kementerian ESDM & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)
Tren Konsumsi BBM Subsidi & Non Subsidi, 2020-2025 - (Kementerian ESDM & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Kementerian ESDM juga mencatat, konsumsi BBM beroktan tinggi seperti RON 98, RON 100, termasuk Pertamax Green mencapai 0,40 juta kl pada 2024 atau naik 12,43% dalam lima tahun terakhir. Sementara hingga Juli 2025, total konsumsi BBM non-subsidi yang meliputi RON dan solar telah mencapai 4,75 juta kl. 

Meski demikian, konsumsi BBM nasional masih didominasi oleh BBM subsidi. Pada 2025, konsumsi BBM subsidi tercatat mencapai 46,47 juta kl atau meningkat 54,64% dibandingkan 30,05 juta kl pada 2020. Dari total konsumsi BBM subsidi tersebut, Pertalite (RON 90) mencapai 28,06 juta kl dan Solar subsidi sebesar 18,31 juta kl pada 2025. 

Dalam lima tahun terakhir, konsumsi Pertalite dan Solar subsidi masing-masing melonjak 54,68% dan 54,57%. Tingginya konsumsi BBM subsidi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.

Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari. Jika selisih harga antara BBM subsidi dan non-subsidi semakin lebar, terdapat risiko sebagian konsumen beralih ke BBM subsidi guna menekan biaya transportasi. 

Kondisi ini dapat memperbesar tekanan terhadap konsumsi BBM subsidi yang sudah tinggi sekaligus berpotensi menggerus daya beli masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih berlangsung.

Data Terkait

kenaikan-pertamax-berisiko-menggerus-daya-beli-hingga-sektor-riil
Ekonomi

Kenaikan Pertamax Berisiko Menggerus Daya Beli hingga Sektor Riil

Kenaikan harga Pertamax hingga 32,11% berisiko mendorong peralihan ke BBM subsidi, menambah beban APBN, menekan daya beli, serta meningkatkan biaya logistik.

1 hari yang lalu

pertamax-cetak-rekor-lonjakan-harga-bbm-tertinggi-dalam-dua-dekade
Ekonomi

Pertamax Cetak Rekor Lonjakan Harga BBM Tertinggi dalam Dua Dekade

Lonjakan harga Pertamax pada Juni 2026 ini resmi mencetak rekor baru sebagai kenaikan tertinggi untuk varian BBM non-subsidi dalam dua dekade terakhir.

1 hari yang lalu

belum-naik-harga-bbm-indonesia-lebih-terjangkau-dibanding-negara-asia
Ekonomi

Belum Naik, Harga BBM Indonesia Lebih Terjangkau Dibanding Negara Asia

Meski harga minyak global naik, BBM RI belum berubah. Dengan kisaran US$ 0,73 per liter, harganya masih lebih rendah dibanding negara Asia lainnya.

1 Apr 2026