Pengumpulan zakat, infak, dan sedekah di Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama menjelang Ramadan hingga Lebaran. Outlook Zakat Indonesia pada 2026 mencatat lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, di mana total penghimpunan zakat nasional naik dari Rp 8,12 triliun pada 2018 menjadi Rp 40,51 triliun pada 2024 atau tumbuh sekitar 398%.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, pemanfaatan zakat kini semakin diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Zakat dinilai memiliki peran penting dalam membantu menutup kesenjangan pembiayaan SDGs di Indonesia yang diperkirakan mencapai USD 1 triliun hingga 2030, dengan fungsi sebagai pembiayaan sosial yang terarah dan berdampak langsung bagi kelompok rentan.
Penyaluran zakat juga telah mencakup berbagai sektor yang berkaitan erat dengan target pembangunan. Outlook Zakat Indonesia melaporkan, pada 2024, alokasi terbesar disalurkan untuk bidang kemanusiaan sebesar Rp 3,10 triliun, diikuti dakwah dan advokasi Rp 1,75 triliun, pendidikan Rp 1,29 triliun, ekonomi Rp 616 miliar, serta kesehatan Rp 458 miliar. Seluruh distribusi tersebut dirancang untuk mendorong pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi produktif.
BAZNAS juga mengintegrasikan pendekatan SDGs dalam berbagai program unggulan, seperti Zakat Community Development, BAZNAS Microfinance, hingga program pemberdayaan ekonomi dan sosial lainnya. Pendekatan ini menempatkan mustahik sebagai pelaku utama pembangunan, sehingga zakat tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial yang berkelanjutan.