Eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026 berpotensi memberi dampak lanjutan pada hubungan ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Iran selama ini tercatat sebagai salah satu mitra dagang penting Indonesia, khususnya untuk produk hortikultura dan komoditas pangan.
Adapun kinerja perdagangan Indonesia dan Iran menguat sepanjang 2025. Nilai ekspor Indonesia ke Iran mencapai US$ 249,1 juta, meningkat 20,79% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kelompok buah-buahan menjadi kontributor terbesar dengan pangsa 34,69% dari total ekspor. Sepanjang 2025, nilai pengiriman buah ke Iran tercatat sebesar US$ 86,40 juta, melonjak 49,59% dibanding tahun sebelumnya. Kinerja ini menempatkan sektor hortikultura sebagai tulang punggung perdagangan bilateral kedua negara.
Selain buah-buahan, ekspor kendaraan dan bagiannya mencapai US$ 34,10 juta. Disusul lemak serta minyak hewan/nabati sebesar US$ 22 juta, produk kimia yaitu US$ 20,20 juta, serta kayu dan barang dari kayu senilai US$ 20 juta. Komoditas lain yang turut menopang kinerja ekspor adalah kopi, teh, dan rempah-rempah (US$ 19,20 juta), makanan olahan (US$ 12,00 juta), sabun dan preparat pembersih (US$ 5,40 juta), mesin dan pesawat mekanik (US$ 5,20 juta), serta bahan kimia organik (US$ 4,40 juta).