Rupiah Tertekan di Awal 2026, Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya

Senin, 26 Januari 2026 | 07:00 WIB

Y
Penulis: Yelinka Maresa Sianturi | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Rupiah Tertekan di Awal 2026, Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya
Pelemahan rupiah dipicu spekulasi independensi BI, persepsi fiskal, kebutuhan valas korporasi, hingga kuatnya dolar AS akibat kebijakan global.

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal 2026, dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Salah satu pemicunya adalah spekulasi pasar terkait proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Isu mengenai independensi bank sentral mencuat seiring munculnya nama Thomas Djiwandono, yang memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo Subianto.

Deputi Gubernur BI Purbaya Yudhi Sadewa menilai kekhawatiran tersebut lebih bersifat spekulatif. Ia menegaskan, independensi Bank Indonesia tetap terjaga dan pelemahan rupiah bukan cerminan dari fundamental ekonomi. 

Senada, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan dinamika pencalonan pejabat BI turut memengaruhi sentimen, meski prosesnya berjalan sesuai aturan dan tata kelola yang berlaku.

Dari sisi domestik lainnya, meningkatnya kebutuhan valuta asing korporasi ikut menambah tekanan. Permintaan dolar dari sejumlah BUMN besar seperti Pertamina dan PLN membuat pasokan valas di pasar menjadi lebih ketat, sehingga mendorong pelemahan rupiah dalam jangka pendek.

Tekanan juga datang dari luar negeri. Kebijakan tarif Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, serta peluang penurunan suku bunga The Fed yang semakin kecil membuat dolar AS kian diminati. Kondisi ini memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan catatan net outflow mencapai US$1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.

Data Terkait

praktik-independensi-bank-sentral-di-berbagai-negara
Hukum & Keamanan

Praktik Independensi Bank Sentral di Berbagai Negara

Independensi bank sentral menjadi sorotan seiring revisi UU P2SK. Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang memiliki pengaturan berbeda terkait peran pemerintah dalam kebijakan moneter.

30 Jun 2026

bi-rate-naik-ke-575-saat-the-fed-masih-tahan-suku-bunga
Ekonomi

BI Rate Naik ke 5,75% Saat The Fed Masih Tahan Suku Bunga

Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate menjadi 5,75% pada Juni 2026 di saat The Fed cenderung menahan suku bunga di level 3,75% sepanjang 2026.

18 Jun 2026

demo-serentak-mahasiswa-angkat-isu-mbg-bbm-hingga-stabilitas-rupiah
Politik

Demo Serentak Mahasiswa Angkat Isu MBG, BBM hingga Stabilitas Rupiah

Aksi mahasiswa serentak di berbagai daerah menyoroti evaluasi MBG, kenaikan BBM, stabilitas rupiah, hingga penolakan militerisme dan sejumlah RUU.

15 Jun 2026

kunjungan-wisman-april-2026-melonjak-di-tengah-pelemahan-rupiah
Ekonomi

Kunjungan Wisman April 2026 Melonjak di Tengah Pelemahan Rupiah

Kunjungan wisman ke Indonesia pada April 2026 mencatatkan lonjakan signifikan di tengah momentum pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

9 Jun 2026

rupiah-tembus-rp-18056-per-dolar-as-tren-pelemahan-terjadi-di-asia
Ekonomi

Rupiah Tembus Rp 18.056 per Dolar AS, Tren Pelemahan Terjadi di Asia

Nilai tukar rupiah menembus Rp 18.056 per dolar AS pada 5 Juni 2026 atau terkoreksi 10,94% yoy, diikuti sejumlah negara Asia.

5 Jun 2026

rupiah-tertekan-di-pasar-offshore-dipicu-sentimen-global-dan-domestik
Ekonomi

Rupiah Tertekan di Pasar Offshore, Dipicu Sentimen Global dan Domestik

Rupiah di pasar offshore melemah hingga Rp 17.852 per dolar AS dan terdepresiasi 7,06% sepanjang 2026 akibat sentimen global serta tekanan domestik.

29 Mei 2026