Bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera menimbulkan kerusakan infrastruktur dalam skala besar. Di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan menjadi daerah yang paling terdampak, dengan 74 fasilitas umum, 19 rumah ibadah, dan 54 fasilitas pendidikan rusak. Selain itu, lebih dari 331 rumah warga ikut terdampak, sementara area lahan kritis di wilayah ini mencapai 207 ribu hektare.
Sejumlah kabupaten lainnya seperti Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi juga mencatatkan ribuan rumah rusak serta puluhan infrastruktur publik yang tidak lagi berfungsi.
Di Aceh, dampak kerusakan tercatat lebih luas, terutama di Aceh Utara. Provinsi ini mencatat 123 fasilitas umum, 48 rumah ibadah, 99 gedung/kantor, serta 75 fasilitas pendidikan yang terdampak. Lahan kritis seluas lebih dari 217 ribu hektare dan kawasan hutan mencapai 21 ribu hektare turut terpengaruh. Data juga menunjukkan ribuan rumah rusak hingga puluhan ribu lahan sawah dan kebun terdampak banjir, terutama di Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Barat.
Sumatera Barat juga mengalami kerusakan signifikan. Padang Pariaman mencatat lebih dari 339 fasilitas umum, 118 rumah ibadah, 197 fasilitas pendidikan, serta hampir 4.000 rumah rusak. Kerusakan lahan mencapai lebih dari 3.100 hektare, sementara wilayah Pesisir Selatan, Agam, dan Lima Puluh Kota mencatatkan rentetan kerusakan pada infrastruktur dasar seperti rumah warga, sawah, kebun, dan jalan.
Meluasnya kerusakan infrastruktur di tiga provinsi utama ini menegaskan tingginya dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi beruntun di Sumatera. Selain merusak fasilitas vital masyarakat, kerusakan ini menghambat mobilitas, layanan publik, aktivitas pendidikan, hingga pemulihan ekonomi lokal. Dibutuhkan percepatan perbaikan, distribusi logistik, dan mitigasi jangka panjang untuk mengurangi potensi bencana serupa ke depan.