Wabah Ebola Renggut 3.781 Jiwa dan Capai 7.841 Kasus Konfirmasi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 17:00 WIB

A
Penulis: Ajeng Wirachmi | Editor: AW
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Wabah Ebola Renggut 3.781 Jiwa dan Capai 7.841 Kasus Konfirmasi
thumbnail

Penyebaran penyakit Ebola kembali menjadi perhatian serius dunia setelah mencatatkan total 7.841 kasus konfirmasi dengan 3.781 kematian. Wabah ini dipicu oleh virus Bundibugyo dan menjadi krisis kesehatan lintas negara dengan puluhan ribu warga terdampak.

Berdasarkan pembaruan data Kementerian Kesehatan per September 2026 yang dihimpun dari WHO, Africa CDC, dan otoritas kesehatan setempat, Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) menjadi wilayah paling terdampak. Di negara tersebut, tercatat sebanyak 7.820 kasus konfirmasi, 3.779 kematian, 1.951 pasien sembuh, serta 32.745 orang terlacak sebagai kontak erat.

Krisis bermula pada 5 Mei 2026 saat ditemukan klaster kematian tanpa sebab pasti di Provinsi Ituri, RD Kongo. Sepuluh hari berselang, Africa CDC secara resmi melaporkan kejadian luar biasa penyakit Ebola setelah hasil uji sekuensing mengonfirmasi keberadaan virus Bundibugyo. Menyikapi situasi yang memburuk dengan cepat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC) pada 17 Mei 2026.

Melansir laporan CDC (The Centers for Disease Control and Prevention), badan kesehatan tersebut tengah turun langsung menangani wabah yang kini resmi menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan medis. CDC menegaskan laju penyebaran kali ini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan wabah-wabah sebelumnya. Tercatat, wabah ke-17 di RD Kongo ini mampu melampaui 1.000 kasus konfirmasi hanya dalam waktu 40 hari sejak aktivasi respons penanganan. Kecepatan transmisi tersebut melesat drastis bila dibandingkan dengan wabah Ebola tahun 2018 di negara yang sama, yang memerlukan waktu sekitar 235 hari untuk mencapai angka 1.000 kasus.

Laporan CDC juga mencatat bahwa kasus konfirmasi di RD Kongo telah meluas ke tujuh provinsi, yaitu Bas-Uélé, Haut-Uélé, Ituri, North Kivu, South Kivu, South Ubangi, dan Tshopo. Dari sebaran wilayah pada data 22 September 2026, paparan virus mencakup 63 zona kesehatan, dengan konsentrasi tertinggi di Provinsi Ituri (28 zona) dan North Kivu (16 zona). Kendati demikian, CDC mencatat kabar baik dari South Kivu yang tidak lagi melaporkan adanya temuan kasus konfirmasi baru sejak 29 Mei 2026.

Selain di RD Kongo, Uganda juga melaporkan temuan kasus infeksi pada saat bersamaan ketika RD Kongo pertama kali mengumumkan wabahnya. Namun, per 28 Juli 2026, Kementerian Kesehatan Uganda resmi mendeklarasikan berakhirnya wabah di negaranya, setelah menangani total 20 kasus konfirmasi, 2 kematian, 18 pasien sembuh, dan 831 kontak erat di Distrik Kampala dan Wakiso. Sementara itu, Prancis mencatat 1 kasus konfirmasi tanpa kematian, 1 pasien sembuh, dan 5 kontak erat per data 17 Juli 2026.

Berdasarkan penilaian risiko WHO per Agustus 2026, risiko penyebaran di tingkat global dan kawasan regional Afrika secara umum masih berada pada level rendah. Kendati begitu, ancaman penularan di dalam wilayah RD Kongo dinilai sangat tinggi, disusul risiko tinggi bagi negara-negara yang berbatasan darat langsung dengan RD Kongo. (Yesi Rahma Mustika)

Update Terbaru Penyebaran Penyakit Ebola - (Kemenkes/DATASATU)
Update Terbaru Penyebaran Penyakit Ebola - (Kemenkes/DATASATU)

Data Terkait

wabah-ebola-meningkat-di-afrika-pbb-tingkatkan-penanganan-darurat
Kesehatan

Wabah Ebola Meningkat di Afrika, PBB Tingkatkan Penanganan Darurat

Penyebaran wabah virus Ebola jenis Bundibugyo di kawasan Afrika kian mengkhawatirkan dengan Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai pusat episentrum.

28 Mei 2026

wabah-ebola-strain-bundibugyo-muncul-di-afrika-tengah
Kesehatan

Wabah Ebola Strain Bundibugyo Muncul di Afrika Tengah

WHO resmi menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) akibat lonjakan kasus Ebola di Afrika Tengah.

20 Mei 2026