Dunia penerbangan Indonesia mencatatkan berbagai insiden fatal dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, yang melibatkan berbagai jenis armada mulai dari pesawat ringan hingga helikopter komersial. Bersasarkan hasil media monitoring Tim Riset DATASATU, tragedi bermula pada 3 Agustus 2025 saat pesawat Microlight Quicksilver GT500 jatuh di Bogor yang menewaskan pilot Marsma TNI Fajar Adriyanto. Memasuki bulan September 2025, 2 kecelakaan helikopter terjadi dalam waktu berdekatan, yakni Helikopter BK117-D3 di Gunung Balamut dengan 8 korban jiwa dan Helikopter PK-IWS di Papua yang menewaskan 4 orang akibat cuaca buruk.
Awal tahun 2026 kembali diwarnai duka dengan jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport pada 17 Januari di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang membawa 10 penumpang. Berselang 3 bulan kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, Helikopter Airbus EC130 T2 milik PT Matthew Air Nusantara jatuh di wilayah Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Insiden terbaru ini menambah daftar panjang korban jiwa dengan 8 orang dinyatakan tewas, termasuk pilot, teknisi, dan seluruh penumpang.
Secara keseluruhan, data monitoring menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan diawali dengan peristiwa hilang kontak di medan yang sulit dijangkau, seperti kawasan pegunungan dan hutan lebat. Faktor cuaca ekstrem dan kondisi geografis yang terjal menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi korban. Rentetan kejadian ini menjadi catatan kritis bagi otoritas penerbangan nasional terkait pengawasan kelaikan armada serta standar keselamatan penerbangan di wilayah dengan risiko geografis yang tinggi.