Dunia penerbangan Indonesia mencatatkan serangkaian insiden memilukan dalam kurun waktu setahun terakhir yang melibatkan berbagai jenis armada, mulai dari pesawat ringan hingga helikopter operasional. Periode ini dibuka dengan jatuhnya pesawat Microlight Quicksilver GT500 di Bogor pada Agustus 2025 yang merenggut nyawa seorang perwira tinggi TNI. Tragedi berlanjut pada bulan September dengan 2 kecelakaan helikopter di wilayah Kalimantan dan Papua, di mana faktor cuaca buruk dan medan yang ekstrem di kawasan pegunungan menjadi tantangan berat dalam proses evakuasi korban dan bangkai pesawat.
Memasuki awal tahun 2026, duka kembali menyelimuti Tanah Air, menyusul hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di rute Yogyakarta-Makassar. Penemuan serpihan pesawat di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung mengonfirmasi adanya korban jiwa, dengan sebagian besar penumpang masih dalam proses pencarian dan identifikasi oleh tim terkait.
| Waktu Kejadian | Jenis Pesawat | Kronologi Kejadian | Jumlah Korban |
| 3 Agustus 2025 | Microlight Quicksilver GT500 (registrasi PK-S126) | Pesawat lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja, Bogor, untuk latihan terbang. Hilang kontak setelah 11 menit dan ditemukan jatuh di area pemakaman umum Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pesawat dinyatakan laik terbang setelah pemeriksaan teknis. | 1 tewas (pilot Marsma TNI Fajar Adriyanto), 1 luka berat (kopilot) |
| 1 September 2025 | Helikopter BK117-D3 (Operator: Eastindo) | Hilang kontak 8 menit setelah lepas landas dari Kotabaru menuju Palangka Raya. Saksi melihat asap putih dan mendengar ledakan. Bangkai ditemukan di kawasan Air Terjun Mandin Damar, Gunung Balamut, pada ketinggian 3.000 kaki. | 8 tewas (6 jenazah teridentifikasi, 2 diduga hangus menjadi abu) |
| 10 September 2025 | Helikopter PK-IWS (Operator: PT Intan Angkasa) | Hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Ilaga ke Bandara Mozes Kilangin, Timika. Serpihan ekor pesawat ditemukan di Distrik Jila melalui pantauan udara. Evakuasi dilakukan keesokan harinya karena medan curam dan cuaca buruk. | 4 tewas (atas nama: Eko Puja, Sudiarman, Anto, dan Zulfiki) |
| 17 Januari 2026 | ATR 42-500 (Indonesia Air Transport) | Hilang kontak rute Yogyakarta-Makassar. Serpihan ditemukan 18 Jan di koordinat 04°55’48” LS-119°44’52” BT (TN Bantimurung-Bulusaraung). | 10 orang (2 orang korban telah ditemukan & sedang proses identifikasi. Korban lainnya masih dalam pencarian) |