Kawasan Asia Tenggara (ASEAN) masih menjadi pasar utama ekspor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sepanjang paruh pertama 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai pengapalan migas nasional ke kawasan ASEAN pada periode Januari hingga Juni 2026 menembus 3.922,59 juta dolar AS.
Dari seluruh negara tetangga di Asia Tenggara, Singapura tampil sebagai pembeli paling dominan dengan nilai transaksi mencapai 2.280,57 juta dolar AS. Posisi kedua ditempati oleh Malaysia yang menyerap ekspor migas senilai 1.066,84 juta dolar AS, disusul Thailand sebesar 320,35 juta dolar AS dan Filipina sebesar 224,31 juta dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor ke Myanmar, Vietnam, serta negara ASEAN lainnya masing-masing berada di bawah 25 juta dolar AS.
Di luar kawasan ASEAN, negara-negara utama di Asia juga mencatatkan serapan migas yang cukup tinggi dari Indonesia. China menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi senilai 814,98 juta dolar AS. Selanjutnya, Jepang mengimpor migas dari Tanah Air sebesar 604,99 juta dolar AS, sedangkan gabungan negara Asia lainnya membukukan angka 739,64 juta dolar AS.
Sebaliknya, porsi ekspor migas Indonesia ke kawasan lain terpantau jauh lebih mini. Kawasan Uni Eropa tercatat menyerap 85,96 juta dolar AS, diikuti Australia senilai 15,19 juta dolar AS dan Inggris sebesar 4,78 juta dolar AS. Adapun kawasan Afrika, Rusia, dan Amerika Serikat masing-masing hanya mencatatkan nilai pembelian di bawah 2 juta dolar AS selama 6 bulan pertama tahun ini.