Libur panjang atau long weekend pada 27 Mei 2026 hingga 2 Juni 2026 menjadi momentum yang mendorong aktivitas ekonomi nasional seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat, penjualan tiket kereta api untuk keberangkatan 26 Mei hingga 1 Juni 2026 telah menembus 1,3 juta tiket. Bahkan, dalam lima hari pertama periode long weekend tersebut, KAI telah melayani sebanyak 956,26 ribu pelanggan di berbagai wilayah operasional di Jawa dan Sumatera.
Peningkatan mobilitas juga terlihat pada layanan kereta cepat Whoosh. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) melaporkan, jumlah penumpang Whoosh meningkat 15% selama periode libur panjang. Hingga Sabtu (30/5) pukul 10.00 WIB, penjualan tiket Whoosh telah mencapai sekitar 12 ribu tiket. Tingginya pergerakan masyarakat ini turut membuka peluang peningkatan aktivitas konsumsi, terutama di sektor perdagangan dan jasa.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperkirakan momentum long weekend dapat membantu menopang industri ritel yang tengah menghadapi tekanan. Setelah memasuki periode low season pasca-Idul Fitri, sektor ritel masih dibayangi pelemahan daya beli masyarakat, ketidakpastian ekonomi, serta dinamika geopolitik global. Menurut APPBI, kunjungan ke pusat perbelanjaan diproyeksi naik sekitar 10-15% dibandingkan akhir pekan normal, didorong berbagai promo dan diskon yang ditawarkan pelaku usaha.
Meski demikian, APPBI menilai peningkatan konsumsi selama libur panjang cenderung bersifat sementara. Tantangan ekonomi yang lebih struktural masih membayangi, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah yang menurut data Google Finance pada Selasa (2/6) mencapai Rp 17.830 per dolar AS. Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan wisata ke luar negeri. Data BPS menunjukkan, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri pada April 2026 turun 30,54% yoy menjadi 643,66 ribu perjalanan.
Dengan demikian, meski long weekend mampu mendorong mobilitas dan konsumsi dalam jangka pendek, pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat masih menjadi faktor yang membatasi percepatan perputaran ekonomi nasional ke depannya.