Kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan bagi ASN hingga sektor swasta sejak 10 April 2026 mulai menunjukkan dampak yang beragam di berbagai sektor. Dari sisi transportasi, perubahan belum terlalu signifikan, terutama pada penggunaan moda transportasi umum seperti kereta.
KAI mencatat, volume penumpang commuter line Jabodetabek tetap tinggi dan mencapai 1,04 juta penumpang pada Jumat (10/4), meskipun terjadi penurunan pengguna di sejumlah stasiun hingga 20%. Di sisi lalu lintas, dampak WFH mulai terlihat pada berkurangnya tingkat kemacetan di Jakarta, khususnya pada jam sibuk di pagi dan sore hari. Ditlantas Polda Metro Jaya menyampaikan bahwa kepadatan kendaraan relatif menurun, terutama di kawasan perkantoran yang tampak lebih lengang. Namun demikian, mobilitas masyarakat di pusat perbelanjaan tetap tinggi, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak sepenuhnya berkurang.
Pada sektor properti, khususnya perkantoran, dampak kebijakan ini dinilai masih terbatas. Colliers Indonesia mengungkapkan bahwa sistem kerja hybrid yang telah lebih dulu diadopsi oleh perusahaan swasta membuat risiko dari WFH tidak terlalu signifikan. Meski begitu, terdapat potensi penurunan permintaan ruang kantor karena perusahaan dapat melakukan efisiensi ruang seiring berkurangnya kehadiran karyawan secara fisik.
Sementara itu, di lingkungan pemerintahan, sejumlah pemerintah daerah menilai kebijakan WFH mampu meningkatkan efisiensi operasional, seperti penghematan BBM dan listrik di kantor. Selain itu, produktivitas ASN disebut tetap terjaga melalui sistem pengawasan berlapis. Namun, efektivitas kebijakan ini masih terbatas karena penerapannya bersifat parsial, mengingat layanan publik, satuan dinas, hingga pejabat tinggi tetap menjalankan Work From Office (WFO).