Kontingen Indonesia sementara mengoleksi 22 medali pada ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026, dengan rincian 1 emas, 4 perak, dan 17 perunggu. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-16 klasemen sementara.
Bulu tangkis menjadi penyumbang emas perdana bagi kontingen Merah Putih lewat nomor beregu putra, usai kemenangan penentu yang diraih Moh. Zaki Ubaidillah. Selain emas, cabang ini turut menambah satu medali perunggu.
Di luar bulu tangkis, perolehan medali Indonesia tersebar di beberapa cabang olahraga. Dayung (rowing) mengamankan dua medali, sementara teqball menunjukkan tren positif dengan mengantongi satu perak dan satu perunggu. Pada cabang bela diri, wushu tampil paling menonjol dengan sumbangan lima medali perunggu, disusul karate yang membawa pulang dua medali perunggu.
Sebaran medali yang makin meluas ini memperlihatkan diversifikasi prestasi nasional yang tidak lagi bertumpu pada satu cabang olahraga. Namun, komposisi perolehan yang didominasi medali perunggu menandakan daya saing atlet Merah Putih masih menghadapi tantangan pada fase penentuan juara. Efektivitas konversi peluang menuju podium emas dan perak masih menjadi pekerjaan rumah utama.
Bila disandingkan dengan catatan historis, raihan sementara ini masih berjarak cukup jauh dari performa terbaik Indonesia. Saat menjadi tuan rumah Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, Indonesia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan raihan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu (total 98 medali). Catatan impresif lainnya terjadi pada Asian Games 1962 di Jakarta dengan torehan 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu.
Secara keseluruhan, Asian Games 2026 membuktikan bahwa Indonesia berhasil memperlebar keran medali dari berbagai cabang olahraga. Meski demikian, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menembus podium, melainkan menaikkan daya tahan kompetitif agar mampu mengonversi raihan perunggu menjadi medali emas dan perak. (Vebriansyah Pratama Putra)