Presiden Prabowo Subianto resmi merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Posisi Kepala BGN yang sebelumnya dijabat Dadan Hindayana kini dipercayakan kepada Nanik Sudaryati Deyang. Pergantian ini dilakukan setelah pemerintah mengevaluasi kinerja lembaga yang bertanggung jawab mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengumuman disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Presiden pada Selasa, 2 Juni 2026. Pemerintah berharap perubahan kepemimpinan ini dapat memperkuat tata kelola organisasi seiring semakin luasnya cakupan program MBG.
Nanik S. Deyang yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN kini dipercaya memimpin lembaga tersebut. Perempuan yang mengawali karier sebagai wartawati itu akan didampingi oleh dua Wakil Kepala BGN baru, yakni Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Keduanya menggantikan Lodewyk Pusung selaku Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan serta Sony Sonjaya selaku Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.
Agustina Arumsari merupakan auditor berpengalaman dengan latar belakang pendidikan STAN dan Universitas Indonesia. Ia mengantongi berbagai sertifikasi profesional, termasuk Certified Fraud Examiner (CFE), serta memiliki rekam jejak panjang di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Sebelum bergabung ke BGN, Agustina menjabat sebagai Wakil Kepala BPKP sejak Februari 2025.
Sementara itu, Mayjen TNI Trenggono memiliki pengalaman panjang di lingkungan TNI. Lulusan Akademi Militer tahun 1993 dari kecabangan Infanteri/Kopassus tersebut pernah menjabat sebagai Direktur Umum Akademi Militer, Direktur Pengkajian dan Pengembangan Seskoad, hingga Staf Khusus Panglima TNI.
Dikutip dari BeritaSatu.com, Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pergantian pimpinan ini tidak akan mengganggu pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Pemerintah tetap mengapresiasi kontribusi pimpinan sebelumnya yang telah membangun fondasi organisasi sejak BGN dibentuk. Namun, seiring semakin luasnya cakupan program dan meningkatnya kompleksitas pelaksanaan di lapangan, diperlukan kepemimpinan, strategi, dan pendekatan baru guna mengoptimalkan upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia.