TPST Bantargebang kembali menjadi sorotan setelah gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona IV longsor pada Minggu, 8 Maret 2026 pukul 14.30 WIB. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menilai peristiwa ini menjadi bukti kegagalan sistemik pengelolaan sampah di Jakarta. Menurutnya, praktik pembuangan terbuka atau open dumping di lokasi tersebut juga melanggar UU Nomor 18 Tahun 2008 karena sistem yang ada dinilai tidak lagi mampu meminimalkan risiko keselamatan bagi masyarakat sekitar.
Persoalan limbah padat di kota-kota besar Indonesia menempatkan TPST Bantargebang sebagai poros utama dengan luas mencapai 110,3 hingga 117,5 hektare. Fasilitas raksasa di Bekasi ini menampung beban rata-rata 6.500 hingga 7.800 ton sampah per hari dari DKI Jakarta. Namun, Bantargebang bukan satu-satunya titik kritis.
Sejumlah fasilitas lain seperti TPA Jatibarang di Semarang seluas 46,1 hektare dan TPA Sarimukti di Bandung Barat seluas 25,2 hektare juga memikul beban ribuan ton sampah harian guna mencegah kelumpuhan sanitasi di wilayah metropolitan sekitarnya.
Transformasi teknologi kini menjadi kunci di tengah keterbatasan lahan, beralih dari sistem open dumping yang berisiko menuju tata kelola yang lebih modern. TPA Benowo di Surabaya, misalnya, telah mengadopsi teknologi Gasification Power Plant yang mampu mengonversi sampah menjadi listrik hingga 12 megawatt.
Langkah serupa juga terlihat pada TPST Kesiman Kertalangu di Bali yang memprioritaskan pengolahan berbasis komunitas dengan teknologi block cell untuk menghasilkan biogas dan pupuk cair, membuktikan bahwa modernisasi fasilitas pengolahan sampah adalah kebutuhan mendesak demi menjaga keberlanjutan lingkungan nasional.
Berikut data TPS besar di Indonesia:
Nama Fasilitas | Lokasi | Sejarah Singkat | Luas | Estimasi Volume Sampah (ton/hari) | Komponen & Teknologi |
| TPA Sarimukti | Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat | TPA Sarimukti mulai digunakan tahun 2006 pasca tragedi Longsor TPA Leuwigajah | 25,2 hektare (21,2 hektare lahanberasal dari Perhutani dan 4 hektare berasal dari Pemerintah Kota Bandung) | 4.000 | Komponen sampah yang ada di TPA Sarimukti pada umumnya terdiri atas bahan basah (organik), plastik, karet, barang pecah belah, kain/bahan tekstil, kertas, dan logam dengan warna pada umumnya hitam. Sementara itu, teknologi yang digunakan adalah sistem sanitary landfill, control landfill, dan sistem open dumping |
| TPA Benowo | Kecamatan Pakal, Kota Surabaya | TPA Benowo mulai beroperasi pada 2001. Sejak 2012, pengolahan sampah menjadi listrik sudah dilakukan di lokasi ini. Sementara itu, TPA Benowo juga resmi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dikembangkan oleh Pemkot Surabaya dan diresmikan oleh Presiden RI pada Mei 2021. | 37,5 hektare | 1.500 | Sampah yang dihasilkan dan diolah di TPA Benowo adalah sampah domestik atau rumah tangga. Proses pengolahan sampah di TPA Benowo menjadi listrik awalnya menggunakan metode Landfill Gas Power Plant, di mana 600 ton sampah dapat menghasilkan 2 MW listrik. Sejak 2015, mulai diterapkan metode Gasification Power Plant dengan target penuh pada 2020, yang memungkinkan pengolahan lebih cepat, menghasilkan listrik hingga 6 kali lebih banyak serta mampu mengolah hampir 2 kali lipat jumlah sampah dibandingkan metode sebelumnya. |
| TPA Jatibarang | Kecamatan Mijen, Kota Semarang | TPA Jatibarang mulai beroperasi pada Maret 1992. TPA ini adalah proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), mengolah 1.200 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18 megawatt. | 46,1 hektare | 1.200 | Komponen sampah di TPA Jatibarang didominasi oleh sampah organik (62%), seperti sisa sayuran, buah, sisa makanan, atau dedaunan, dan ranting). TPA Jatibarang di Semarang telah beralih ke sistem sanitary landfill dengan penerapan soil cover (penutupan lapisan tanah) pada setiap timbunan sampah, guna mengurangi bau tidak sedap, keberadaan lalat, serta emisi gas metana secara signifikan. Pendekatan ini menggantikan metode open dumping sebelumnya, sehingga pengelolaan sampah menjadi lebih aman, terstruktur, dan ramah lingkungan. |
| TPA Galuga | Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor | TPA Galuga mulai beroperasi pada 1992. TPA ini mengelola sampah harian dengan volume hingga 1.000 ton. | 37,5 hektare | 500 ton/hari dari Kota Bogor dan 600 ton/hari dari Kabupaten Bogor | Sampah di TPA Galuga didominasi oleh sampah rumah tangga, baik dari perumahan, non perumahan, maupun pasar. TPA ini dilengkapi dengan unit proses pengomposan sampah open windrow. |
| TPST Kesiman Kertalangu | Kota Denpasar, Bali | TPST Kesiman Kertalangu diresmikan pada Maret 2023 oleh Presiden RI saat itu, Joko Widodo. Melansir Jurnal Ilmiah Telsinas vol 6 (2), TPST ini merupakan yang terbesar di Kota Denpasar dan berlokasi sekitar 10 km sebelah timur pusat kota Denpasar. | 2 hektare | Diproyeksikan mampu mengolah 450 ton sampah setiap harinya | Sampah yang masuk di TPST Kesiman Kertalangu beragam, seperti sampah rumah tangga. Pengolahan sampah di TPST tersebut dilakukan terpadu. Sampah warga diangkut dengan dump truck, dibongkar, lalu dipilah secara manual. Sampah organik dipindahkan ke block cell (kolam semen 4x6x2 m): sisa makanan ke cell 1 dan daun ke cell 2. Di cell tersebut terjadi fermentasi anaerobik untuk menghasilkan gas metana (dikeluarkan via pipa) serta air lindi yang dialirkan ke kolam penampungan, kemudian diolah dengan campuran air dan gula merah menjadi pupuk cair. Teknologi utamanya adalah block cell untuk pengelolaan sampah organik berbasis biogas dan pupuk cair. |