Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan lengkap bertajuk Profil Anak Usia Dini 2025 yang mencatat jumlah anak usia 0–6 tahun di Indonesia mencapai 31 juta jiwa atau 11,08% dari total populasi nasional. Berdasarkan jenis kelamin, proporsi anak laki-laki mendominasi sebesar 51,05%, sementara anak perempuan mencakup 48,95%. Dari segi kelompok umur, kelompok balita (0–4 tahun) menjadi porsi terbesar dengan 72,19%, sedangkan rentang usia 5–6 tahun mengisi 27,81% sisanya. Secara geografis, populasi anak usia dini ini masih terpusat di Pulau Jawa sebesar 51,61%, disusul Sumatra (23,83%), Sulawesi (7,88%), Kalimantan (6,65%), serta Papua dengan sebaran terendah sebesar 3,82%.
Tumbuh kembang anak pada masa keemasan ini sangat bergantung pada pola pengasuhan serta kehadiran orang tua. Data menunjukkan mayoritas anak usia dini (91,69%) tinggal bersama kedua orang tua kandung, 6,65% dibesarkan oleh orang tua tunggal, dan 1,66% tidak tinggal bersama ayah maupun ibu kandung. Interaksi harian pun rutin dilakukan, mulai dari aktivitas makan bersama (90,07%), berbincang-bincang (71,90%), menonton TV (60,49%), hingga rekreasi dan berolahraga (59,52%).
Meski demikian, BPS mencatat masih ada 0,47% anak usia dini yang sama sekali tidak pernah beraktivitas bersama orang tua atau wali mereka. Temuan Susenas MSBP 2024 bahkan mengungkap 4,58% balita di Indonesia mengalami pengasuhan tidak layak karena ditinggal tanpa pengawasan orang dewasa. Risiko pengasuhan tidak layak ini tercatat jauh lebih tinggi pada anak dari ibu yang bekerja, yakni mencapai 7,05%, dibandingkan anak dengan ibu yang tidak bekerja yang hanya sebesar 2,56%.