Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri merilis capaian kinerja dan pemutakhiran data kependudukan skala nasional terbaru per Juni 2026. Berdasarkan potret demografi terkini yang diunggah pada akun Instagram Dukcapil, jumlah total penduduk Indonesia resmi menembus 290 juta jiwa. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,71 juta jiwa jika dibandingkan dengan pencatatan Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II 2025 yang berada di angka 288,3 juta orang. Seiring dengan pertumbuhan populasi, jumlah Kartu Keluarga (KK) di Indonesia kini menyentuh 96 juta, bertambah sebanyak 852 ribu KK dari periode DKB Semester II 2025 yang sebesar 95,1 juta KK.
Bila ditinjau berdasarkan jenis kelamin, populasi laki-laki di Indonesia masih mendominasi dengan jumlah mencapai 146,3 juta jiwa, atau meningkat sebanyak 857 ribu jiwa dari periode sebelumnya yang sebesar 145,4 juta jiwa. Sementara itu, jumlah populasi perempuan saat ini tercatat sebanyak 143,6 juta jiwa, mengalami kenaikan sebesar 856 ribu jiwa dibandingkan pencatatan akhir tahun lalu yang berada di angka 142,8 juta jiwa.
Melihat komposisi demografi berdasarkan kelompok usia, struktur masyarakat Indonesia saat ini sangat didominasi oleh generasi muda. Generation Z kokoh memegang predikat sebagai kelompok penduduk terbesar di tanah air dengan total mencapai 75,3 juta jiwa. Angka ini disusul oleh kelompok Millennials atau Gen Y di posisi kedua dengan jumlah 68,4 juta jiwa. Kelompok anak-anak dan remaja yang tergolong dalam Generation Alpha menempati urutan ketiga dengan total 55,46 juta jiwa, terpaut tipis di atas Generation X yang mencatatkan populasi sebanyak 55,44 juta jiwa.
Adapun untuk kelompok Baby Boomers tercatat sebesar 26,5 juta jiwa, disusul generasi balita atau Generation Beta sebanyak 5,4 juta jiwa. Sementara itu, 2 generasi paling senior, yakni Silent Generation dan Old Generation, masing-masing menyumbang angka populasi terkecil dengan jumlah 3,1 juta jiwa dan 34 ribu jiwa.
Bergerak ke sektor administrasi dan identitas digital, Ditjen Dukcapil mencatat total masyarakat yang masuk dalam kategori Wajib Rekam KTP-el mencapai 211,7 juta orang. Dari jumlah wajib rekam tersebut, realisasi perekaman biometrik telah berhasil menjangkau 207,5 juta jiwa atau setara dengan 97,98%. Persentase ini menunjukkan tren positif dan kenaikan tipis jika dibandingkan dengan capaian DKB Semester II 2025 yang berada pada angka 206,4 juta jiwa (97,47%).
Berdasarkan wilayah kerja, DKI Jakarta memimpin capaian perekaman KTP-el tingkat provinsi dengan persentase sempurna 100%, disusul Kalimantan Timur (99,73%) dan DI Yogyakarta (99,66%). Pada tingkat kabupaten/kota, performa gemilang perekaman 100% berhasil diraih secara merata oleh seluruh wilayah administrasi Jakarta (Jakarta Timur, Barat, Selatan, Utara, Pusat, dan Kepulauan Seribu), bersama dengan Lombok Timur, Wonogiri, Bangkalan, serta Kota Magelang.
Transformasi digital kependudukan juga terus diakselerasi melalui pemanfaatan Identitas Kependudukan Digital (IKD) dan teknologi pengenalan wajah. Hingga saat ini, pengguna aktif IKD telah menembus hampir 20 juta orang, naik dari posisi akhir tahun lalu yang baru menyentuh 17,5 juta pengguna (8,5%).
Jumlah pengguna terbaru ini merepresentasikan 9,63% dari total penduduk yang sudah melakukan rekam biometrik, serta mencakup 21,14% dari total nomor ponsel yang telah teregistrasi. Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama dalam capaian persentase IKD TOP 10 dengan angka 36,22%, diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 17,52% dan Sumatera Barat sebesar 12,67%. Untuk level kabupaten/kota, Kepulauan Seribu mencatatkan persentase tertinggi sebesar 61,62%, disusul oleh Wonogiri dengan capaian 55,49%.
Selaras dengan perluasan identitas digital ini, intensitas pemanfaatan sistem keamanan terintegrasi ikut melonjak tajam; total akses Face Recognition (FR) yang dikelola Dukcapil kini telah mencapai akumulasi 658.816.196 akses sejak tahun 2020, di mana sepanjang tahun 2026 berjalan ini saja pemanfaatannya sudah diakses sebanyak 115,2 juta kali.