Belajar dari Seoul dan Tokyo: Rahasia Menekan Timbulan Sampah

Jumat, 13 Februari 2026 | 14:41 WIB

Y
Penulis: Yelinka Maresa Sianturi | Editor: YS
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Belajar dari Seoul dan Tokyo: Rahasia Menekan Timbulan Sampah
AS & Israel produsen sampah terbesar, sementara Jepang & Korea sukses tekan limbah. Namun, di Indonesia, 65% sampah belum dikelola dan mengancam kapasitas TPA.

Persoalan sampah menjadi tantangan global yang kian mendesak seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan meningkatnya pola konsumsi masyarakat. Global Waste Index (GWI) 2025 menunjukkan kontras tajam antarnegara, baik dari sisi jumlah timbulan sampah maupun efektivitas sistem pengelolaannya. Perbandingan kondisi Indonesia dengan negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana kebijakan dan teknologi sangat menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.

Di Indonesia, timbulan sampah pada 2025 mencapai 23,95 juta ton. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 34,54% atau setara 8,27 juta ton yang berhasil dikelola. Sementara itu, 65,46% atau sekitar 15,68 juta ton sampah masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini mencerminkan tantangan serius dalam sistem pengelolaan sampah nasional.

Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sekitar 60–70% sampah di Indonesia berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ironisnya, lebih dari 70 TPA masih menggunakan sistem open dumping, yakni pembuangan sampah secara terbuka tanpa pengolahan memadai. Keterbatasan fasilitas pengolahan membuat banyak TPA, terutama di daerah kecil dan menengah, telah mencapai kapasitas maksimum. Akibatnya, sebagian sampah dikelola dengan cara dibakar, dikubur, atau bahkan dibuang secara ilegal, yang berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.

AS & Israel produsen sampah terbesar, sementara Jepang & Korea sukses tekan limbah. Namun, di Indonesia, 65% sampah belum dikelola dan mengancam kapasitas TPA. - (Berbagai sumber/DATASATU)
AS & Israel produsen sampah terbesar, sementara Jepang & Korea sukses tekan limbah. Namun, di Indonesia, 65% sampah belum dikelola dan mengancam kapasitas TPA. - (Berbagai sumber/DATASATU)

Berbeda dengan Indonesia, Jepang mencatat salah satu tingkat timbulan sampah terendah di dunia. Berdasarkan GWI 2025, rata-rata penduduk Jepang hanya menghasilkan 326 kg sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 kg didaur ulang, 245 kg diolah melalui insinerasi, dan hanya 3 kg yang berakhir di TPA. Jepang telah mengandalkan pembakaran sampah sejak dekade 1960-an dan mengoperasikan 1.243 fasilitas insinerasi (per 2009), dengan sekitar 70% menggunakan tungku stoker. Fokus utama Jepang bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mendaur ulang abu hasil pembakaran, sehingga ketergantungan pada TPA sangat minimal.

Korea Selatan juga termasuk negara dengan pengelolaan sampah yang relatif efektif. Menurut GWI 2025, timbulan sampah mencapai 438 kg per orang per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 53,88% atau 236 kg berhasil didaur ulang, 91 kg diproses melalui insinerasi, dan sisanya sekitar 56 kg dibuang ke TPA. Keberhasilan Korea Selatan tidak lepas dari penerapan kebijakan Volume-based Waste Fee (VWF), di mana masyarakat diwajibkan membeli kantong sampah resmi sesuai jenis dan volume. Sistem ini membuat biaya pengelolaan sampah ditentukan oleh jumlah sampah yang dihasilkan, sehingga mendorong pengurangan sampah dan pemilahan sejak dari rumah.

Di sisi lain, Israel tercatat sebagai negara penghasil sampah per kapita tertinggi di dunia menurut GWI 2025, dengan timbulan mencapai 650 kg per orang per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 8% atau 49 kg yang didaur ulang, dan 9 kg diproses melalui insinerasi. Sebagian besar, yakni 524 kg, berakhir di TPA. GWI mencatat bahwa negara yang tengah berada dalam situasi konflik cenderung memiliki tingkat produksi dan penimbunan sampah yang tinggi, seiring terganggunya sistem pengelolaan dan prioritas kebijakan publik.

Sementara itu, Amerika Serikat tetap menjadi salah satu penghasil sampah perkotaan terbesar di dunia. Timbulan sampah per kapita meningkat dari 811 kg pada 2022 menjadi 951 kg pada 2025. Berdasarkan GWI 2025, sekitar 447 kg sampah per kapita dibuang ke TPA, sementara tingkat daur ulang hanya sekitar 30% atau 284 kg. Meski memiliki infrastruktur pengelolaan yang relatif maju, tingginya konsumsi dan ketergantungan pada TPA masih menjadi tantangan besar bagi AS.

Perbandingan berbagai negara ini menunjukkan bahwa tinggi-rendahnya timbulan sampah tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan pengelolaannya. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan mampu menekan dampak sampah melalui kebijakan tegas, teknologi insinerasi, dan perubahan perilaku masyarakat. Sebaliknya, negara dengan timbulan sampah besar namun sistem pengelolaan yang belum optimal masih menghadapi risiko lingkungan yang serius. Bagi Indonesia, pembenahan tata kelola sampah, mulai dari pengurangan di sumber, peningkatan daur ulang, hingga modernisasi TPA menjadi agenda mendesak untuk mengejar praktik terbaik global.

Data Terkait

rumah-tangga-penyumbang-sampah-terbesar-capai-69-juta-ton-per-tahun
Ekonomi

Rumah Tangga Penyumbang Sampah Terbesar, Capai 6,9 Juta Ton per Tahun

Rumah tangga menyumbang lebih dari separuh sampah Indonesia pada 2025, yakni mencapai hampir 7 juta ton per tahun, disusul pasar dan sektor usaha.

4 Feb 2026