Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga terbesar di dunia, tetapi juga menghadirkan dampak ekonomi yang signifikan bagi berbagai pihak. FIFA memperkirakan total pendapatan mencapai US$15 miliar, melampaui target awal sebesar US$11 miliar, didorong oleh tingginya penjualan tiket, paket hospitality, sponsorship, serta hak komersial. FIFA juga memperoleh tambahan pendapatan dari transaksi tiket di pasar sekunder melalui komisi sebesar 15% dari pembeli dan 15% dari penjual pada setiap transaksi.
Di negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, penyelenggaraan Piala Dunia diproyeksikan meningkatkan kunjungan wisatawan internasional, mendorong penerimaan sektor pariwisata, memperbesar kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), serta menciptakan ratusan ribu lapangan kerja.
Bagi Indonesia, meskipun bukan negara penyelenggara, Piala Dunia 2026 diperkirakan tetap memberikan nilai ekonomi sekitar Rp5,03 triliun melalui dampak langsung maupun tidak langsung. Perputaran ekonomi diperkirakan berasal dari meningkatnya konsumsi rumah tangga untuk menonton pertandingan, layanan streaming dan televisi berbayar, belanja media dan periklanan, sektor HOREKA (hotel, restoran, dan kafe), aktivitas UMKM, serta penjualan berbagai produk dan merchandise bertema Piala Dunia. Momentum ini menunjukkan bahwa ajang olahraga global mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang dirasakan hingga ke negara-negara non-tuan rumah.