Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, tercatat sejumlah siswa berusia 10 hingga 14 tahun nekat mengakhiri hidupnya di berbagai wilayah seperti NTT, DI Yogyakarta, dan Jakarta. Tekanan psikologis akibat ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan sekolah hingga rasa kesepian pasca-perceraian orang tua menjadi faktor dominan yang mendorong para korban mengambil keputusan tragis tersebut.
Tragedi terbaru menimpa YBS (10), seorang pelajar di Ngada, NTT, yang ditemukan tewas di pohon cengkeh setelah permintaannya akan alat tulis tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan ekonomi. Fenomena serupa juga terjadi di Bantul dan Jakarta Barat, di mana konflik internal keluarga dan kurangnya dukungan emosional mengakibatkan anak-anak merasa terdesak. Serangkaian peristiwa memilukan ini menjadi sinyal kuat bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem dukungan kesehatan mental serta pengawasan sosial di lingkungan keluarga dan sekolah.