Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menawarkan deretan peluang investasi strategis berskala besar lewat buku Investment Project List yang dirilis dalam ajang Jakarta Investment Festival (JIFF) 2026. Dari sepuluh proyek teratas, nilai investasi yang ditawarkan bergerak dari angka Rp3,3 triliun hingga menembus puluhan triliun rupiah.
Pengembangan kawasan East Ancol seluas 100 hektare menduduki posisi puncak dengan nilai investasi terbesar, yakni mencapai Rp37,4 triliun. Peringkat kedua ditempati proyek infrastruktur lingkungan Jakarta Sewerage System Zone 8 dengan estimasi kebutuhan modal sebesar Rp13,4 triliun.
Pada urutan ketiga, proyek kawasan industri terpadu Reclamation Marunda Industrial Estate mencatatkan kebutuhan dana Rp8,6 triliun. Sementara itu, sektor transportasi massal menyumbang porsi signifikan melalui proyek perpanjangan jalur LRT Jakarta Fase 2A rute Kelapa Gading hingga Jakarta International Stadium (JIS) senilai Rp7,8 triliun.
Sektor properti dan kawasan residensial juga mendominasi daftar ini lewat kehadiran Jakarta River City senilai Rp6,1 triliun dan Samesta Nexa sebesar Rp5,9 triliun. Selain proyek 100 hektare, East Ancol juga menawarkan pengembangan kawasan seluas 20 hektare dengan nilai Rp5,3 triliun, berada tepat di atas proyek Jakarta Sewerage System Zona 7 yang bernilai Rp4,9 triliun. Daftar sepuluh proyek termahal ini kemudian ditutup oleh dua kawasan hunian vertikal, yakni Samesta Angkasa sebesar Rp3,8 triliun dan Samesta Omnia sebesar Rp3,3 triliun.
Berdasarkan laporan indikator makroekonomi dalam buku yang sama, tingginya tawaran investasi ini ditopang oleh kinerja ekonomi Jakarta yang solid. Pada 2025, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta diproyeksikan mencapai 5,21%. Pasar domestik ibu kota juga terbilang kuat dengan proyeksi populasi mencapai 10,67 juta jiwa serta pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang berada di level 5,25%.
Kondisi tersebut tecermin nyata dalam iklim realisasi investasi. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat DKI Jakarta berhasil memimpin realisasi investasi nasional pada kuartal I 2026 dengan perolehan Rp78,7 triliun atau berkontribusi 15,8% terhadap total nasional. Capaian ini melampaui Jawa Barat di posisi kedua sebesar Rp76,8 triliun (15,4%), disusul Banten Rp34,4 triliun (6,9%), Jawa Timur Rp32,6 triliun (6,5%), serta Sulawesi Tengah Rp32,1 triliun (6,4%).
Tren penanaman modal di Jakarta sendiri konsisten menanjak dalam 5 tahun terakhir. Laporan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menunjukkan realisasi investasi Jakarta terus naik dari Rp103,3 triliun pada 2021 menjadi Rp143,0 triliun pada 2022, lalu naik ke Rp166,7 triliun pada 2023, Rp241,9 triliun pada 2024, hingga mencatatkan rekor tertinggi sebesar Rp270,9 triliun pada 2025. Dari total perolehan tahun 2025 tersebut, porsi penanaman modal dalam negeri (PMDN/DDI) mendominasi dengan nilai Rp175,3 triliun, sementara penanaman modal asing (PMA/FDI) menyumbang Rp95,7 triliun.
Jika dilihat berdasarkan sektornya pada kuartal I 2026, aliran dana investasi di Jakarta paling banyak terserap ke sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi dengan nilai Rp28,5 triliun (36%). Sektor jasa lainnya menyusul di peringkat kedua dengan Rp18,3 triliun (23%), perdagangan dan reparasi sebesar Rp12,0 triliun (15%), perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp6,3 triliun (8%), serta sektor pertambangan yang mencatatkan realisasi Rp3,9 triliun (5%).