Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 51,37, yang menandakan sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi. Meski demikian, capaian ini menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan IV-2025 yang mencapai 52,21.
IKBM sendiri merupakan indikator yang dikembangkan untuk memberikan gambaran kondisi dan prospek kegiatan ekonomi menurut pelaku usaha di sektor industri pengolahan. Indeks ini memiliki rentang nilai 0 hingga 100, di mana nilai di atas 50 menunjukkan ekspansi, di bawah 50 menandakan kontraksi, dan tepat 50 berarti tidak ada perubahan dibandingkan periode sebelumnya.
Secara komponen, sebagian besar indikator masih mencerminkan kondisi ekspansif. Komponen pesanan tercatat sebesar 52,69 dan produksi 51,78, menunjukkan permintaan dan aktivitas produksi yang tetap tumbuh. Selain itu, komponen tenaga kerja juga mulai masuk ke zona ekspansi dengan indeks 50,57, meningkat dari triwulan sebelumnya yang masih berada dalam fase kontraksi.
Namun, tidak semua komponen menunjukkan kinerja positif. Waktu kirim kembali terkontraksi ke level 49,01, yang mengindikasikan adanya potensi hambatan dalam distribusi atau logistik. Sementara itu, stok barang tetap berada pada fase ekspansi di level 51,54, mencerminkan ketersediaan barang yang relatif terjaga.
Jika dilihat dari trennya, IKBM meningkat dari 50,48 pada September 2025 menjadi 52,21 pada Desember 2025, sebelum akhirnya sedikit melemah pada Maret 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sektor manufaktur masih tumbuh, tekanan pada beberapa komponen mulai muncul dan perlu diwaspadai.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa capaian IKBM di atas 50 menegaskan kondisi ekspansi sektor manufaktur. “Pada triwulan I-2026, IKBM tercatat sebesar 51,37 yang menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Secara keseluruhan, kinerja industri manufaktur pada awal 2026 masih tergolong solid, meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi seiring dinamika permintaan dan tantangan di sisi distribusi.