Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren pemulihan sekaligus pergeseran pola konsumsi yang signifikan. Sektor penerbangan mencatatkan pemulihan paling tajam dengan lonjakan konsumsi Avtur sebesar 64,95%, dari 2,77 juta kiloliter (KL) pada 2020 menjadi 4,58 juta KL pada 2024. Peningkatan ini menjadi sinyal kuat bangkitnya sektor pariwisata dan mobilitas udara pascapandemi.
Di sektor transportasi darat, perubahan drastis terjadi menyusul kebijakan penghapusan BBM RON 88 (Premium) yang sudah tidak dipasarkan lagi di Indonesia sejak 1 Januari 2023. Peran Premium kini sepenuhnya digantikan oleh RON 90 (Pertalite) yang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. Konsumsi Pertalite melonjak 64,56% dalam lima tahun terakhir, hingga mencapai 29,86 juta KL pada 2024. Dominasi ini menegaskan bahwa harga yang terjangkau tetap menjadi pertimbangan utama masyarakat di tengah upaya transisi standar emisi.
Sejalan dengan itu, kesadaran akan performa mesin serta pemulihan daya beli kelas menengah turut mendorong pertumbuhan BBM berkualitas lebih tinggi. Konsumsi RON 92 (Pertamax) tercatat tumbuh 57,52%, dari 4,06 juta KL pada 2020 menjadi 6,39 juta KL pada 2024.
Secara keseluruhan, tren ini menggambarkan peta energi nasional yang tengah bertransisi. Meski arah menuju penggunaan BBM yang lebih berkualitas semakin nyata, tingginya ketergantungan pada RON 90 menunjukkan bahwa keseimbangan antara keterjangkauan harga dan ketahanan energi nasional masih menjadi tantangan besar di masa depan.