Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang mengganggu pasokan energi global. Menyikapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi apabila kenaikan harga minyak terus berlanjut dan beban subsidi tidak lagi dapat ditanggung oleh APBN. Pemerintah pun telah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi lonjakan harga energi di pasar global.
Pemerintah memperkirakan, apabila harga minyak rata-rata mencapai US$ 92 per barel, defisit anggaran berpotensi melebar hingga sekitar 3,6-3,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, pada Senin (9/3) pukul 21.00 WIB, harga minyak mentah WTI tercatat telah menyentuh US$ 99,53 per barel. Kenaikan tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi fiskal apabila tidak diimbangi dengan langkah penyesuaian kebijakan.
Untuk mengantisipasi pelebaran defisit, pemerintah menyiapkan sejumlah opsi penyesuaian APBN. Salah satunya melalui penghematan pada belanja negara yang dinilai tidak mendesak, termasuk kemungkinan penyesuaian anggaran pada beberapa program besar pemerintah.
Beberapa pos belanja dengan alokasi besar antara lain sektor pendidikan sebesar Rp 757,8 triliun, perlindungan sosial Rp 508,2 triliun, pertahanan Rp 424,8 triliun, serta ketahanan energi Rp 402,4 triliun. Selain itu, program makan bergizi gratis memiliki anggaran Rp 335 triliun, disusul sektor kesehatan Rp 244 triliun dan pembangunan desa, koperasi, serta UMKM sebesar Rp 181,8 triliun yang juga berpotensi dievaluasi jika tekanan fiskal meningkat.