Utang luar negeri Indonesia pada 2024 mencapai US$ 426 miliar. Angka ini hanya tumbuh 5,44% dalam kurun 5 tahun terakhir. Pada 2022, utang luar negeri Indonesia sempat merosot hingga US$ 397 miliar meski kembali berada di level US$ 400 miliar sejak 2023 lalu. Pertumbuhan ini menunjukkan strategi pemerintah dalam menjaga sumber pembiayaan pembangunan nasional di tengah tekanan ekonomi global.
Meski demikian, utang luar negeri hingga Agustus 2025 telah mencapai US$ 431,9 miliar atau tumbuh 2% yoy. Capaian ini lebih lambat dibanding Juli 2025 lalu yang tumbuh hingga 4,2% yoy.
Data Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, melambatnya utang luar negeri dipengaruhi pertumbuhan aliran masuk modal asing pada SBN yang turut melambat seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Adapun alokasi utang luar negeri pemerintah pada sector produktif dan belanja prioritas. BI mencatat, alokasi utang luar negeri didomnasi oleh jasa kesehatan dan kegiatan social engan alokasi hingga 23,4% kemudian disusul dengan jasa Pendidikan (17,2%) dan administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,7%).
Dengan tata kelola utang yang prudent, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap dana yang diperoleh dari luar negeri memberikan dampak nyata bagi kemajuan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.